Tottenham Hotspur resmi memecat Thomas Frank setelah performa buruk di Liga Inggris membuat klub terancam degradasi. Spurs hanya unggul lima poin dari zona merah dan mencatatkan dua kemenangan dalam 17 pertandingan terakhir. Situasi ini memaksa manajemen mengambil keputusan tegas di tengah tekanan besar.

Ange Postecoglou, mantan manajer Spurs, menyebut keputusan tersebut sebagai sesuatu yang “adil” jika melihat hasil di lapangan. Dalam dunia sepak bola profesional, hasil pertandingan memang menjadi tolok ukur utama penilaian terhadap pelatih.
Namun demikian, Postecoglou juga menunjukkan empati kepada Frank. Ia memahami betapa beratnya posisi seorang manajer yang harus bekerja dalam tekanan dan ekspektasi tinggi, terutama di klub sebesar Tottenham.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Lingkungan Penuh Ketidakpastian di Tottenham
Ange Postecoglou menilai bahwa Frank tidak sepenuhnya menjadi sumber masalah di klub. Menurutnya, Tottenham sedang berada dalam fase transisi besar, termasuk perubahan di jajaran manajemen setelah kepergian Daniel Levy.
Perubahan besar tersebut menciptakan suasana ketidakpastian di dalam klub. Dalam kondisi seperti itu, siapa pun manajer yang datang akan menghadapi tantangan ekstra, bahkan jika memiliki reputasi kelas dunia sekalipun.
Ia mempertanyakan arah dan tujuan klub saat menunjuk Frank. Jika sejak awal Spurs ingin bersaing di semua kompetisi, Postecoglou menilai target itu kurang realistis mengingat fondasi tim yang belum stabil.
Baca Juga: FA: Kontrak Baru Thomas Tuchel Tak Terkait Manchester United, Fokus Penuh hingga Euro 2028
Tidak Ada Identitas yang Jelas

Menurut Postecoglou, salah satu masalah utama Tottenham dalam beberapa tahun terakhir adalah kurangnya identitas yang konsisten. Setelah era Mauricio Pochettino, Spurs menunjuk Jose Mourinho, Antonio Conte, dirinya sendiri, hingga Thomas Frank—semuanya dengan filosofi berbeda.
Pergantian gaya permainan yang drastis membuat klub kehilangan benang merah dalam membangun tim. Tanpa arah yang jelas, sulit bagi klub untuk menciptakan proyek jangka panjang yang berkelanjutan.
Ia juga menyoroti kepergian Harry Kane sebagai kehilangan besar yang dampaknya sering diremehkan. Kane bukan hanya pencetak gol, tetapi juga simbol stabilitas dan kualitas di dalam tim.
Risiko dan DNA Klub yang Dipertanyakan
Postecoglou menyebut Tottenham sebagai klub yang “unik,” bahkan cenderung membingungkan. Slogan “Berani berarti bertindak” terpampang di berbagai sudut stadion, namun menurutnya tindakan klub kerap bertolak belakang dengan semangat tersebut.
Untuk meraih kesuksesan, ia menilai klub harus berani mengambil risiko dan berkomitmen pada satu visi yang jelas. Tanpa keberanian untuk mempertahankan arah yang konsisten, perubahan hanya akan menjadi siklus tanpa akhir.
Meski mengakui pemecatan Frank bisa dipahami secara hasil, Postecoglou menegaskan bahwa akar persoalan Spurs lebih dalam dari sekadar pergantian pelatih. Tantangan sebenarnya adalah menemukan identitas dan keberanian untuk membangun masa depan yang stabil. Nantikan terus kabar terbaru seputar sepak bola menarik lainnya hanya di sportsgrain.com.
